NATURE WATER MOUNTAIN VOLCANO CAMP HIKE COMPUTER
Website in English Website in Nederlands Website Bahasa Indonesia Nature Lovers and Climbers List Photo gallery the Albums of Nature blog merbabu Mailling List Yahoo groups Merbabu Community groups in Facebook Guestbook of Nature Lovers
MENU KIRI

 

Gunung Salak memiliki banyak puncak di antaranya puncak Salak 1 dengan ketinggian 2.211 mdpl. Gunung Salak sejak jaman dahulu sudah sering dikunjungi oleh para pejiarah, dahulu terdapat patung pemujaan di puncak gunung Salak. Terdapat juga makam Embah Gunung Salak yang sering dikunjungi para pejiarah.

Di kaki Gunung Salak banyak terdapat tempat-tempat keramat, makam keramat ada juga pura dengan sebutan Kuil Prabu Siliwangi . Pendakian terbaik dilakukan pada musim kemarau, karena pada musim penghujan jalur menjadi becek seperti rawa, licin sekali dan banyak lintah. Selain itu angin seringkali bertiup kencang.

Gunung ini dapat didaki dari beberapa jalur diantaranya jalur yang umum sering dipakai adalah jalur dari Wana Wisata Cangkuang Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi, dari Cangkuang ini ada dua jalur yakni jalur lama yang menuju puncak Gunung Salak 1 dan jalur baru yang menuju Kawah Ratu. Jalur yang penuh dengan nuansa mistik untuk berjiarah adalah jalur dari Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu. Jalur lainnya adalah jalur Desa Girijaya dan Jalur Desa Kutajaya / Cimelati. Jalur yang banyak terdapat air terjunnya adalah jalur Pasir Rengit.

JALUR CANGKUANG CIDAHU

Wana Wisata Cangkuang Cidahu ini selain menjadi tempat perkemahan dengan pemandangan air terjun yang indah, sering digunakan para pengunjung untuk menuju ke Kawah Ratu. Dari Jalur ini pendaki juga dapat menuju ke puncak gunung Salak I. Dari Jakarta kita dapat menggunakan bus jurusan Sukabumi atau kereta api dari Bogor jurusan Sukabumi turun di Cicurug. Selanjutnya dari Cicurug disambung dengan mobil angkot jurusan Cidahu.

Di sekitar pintu masuk Wana Wisata ini terdapat tempat-tempat yang nyaman untuk berkemah, juga banyak terdapat warung-warung makanan. Untuk menuju ke air terjun kita harus turun ke bawah dari MCK di dekat pintu masuk pendaftaran. Untuk menuju ke Kawah Ratu diperlukan waktu sekitar 3-5 jam perjalanan, sedangkan untuk menuju ke puncak Gunung Salak I diperlukan waktu sekitar 8 jam. Dari Bumi perkemahan menuju Shelter I Jalur awal curam berupa batu-batuan yang ditata rapi. Kita mulai memasuki kawasan hutan tropis yang lebat dengan pohon-pohon yang besar, sekitar 1/2 jam kemudian kita akan menempuh jalur yang berfariasi, datar, naik dan turun.

Menuju Shelter II jalur mulai lembab dan basah, dimusim penghujan banyak terdapat pacet. Beberapa sungai kecil akan kita lewati, namun bila musim kemarau sungai ini akan kering. Kita akan menyusuri jalur yang banyak ditumbuhi pohon-pohon pisang, namun jangan berharap menemukan buah pisang yang matang karena daerah ini banyak di huni monyet. Bila hari menjelang sore kita akan menyaksikan monyet-monyet bergelantungan di sarang mereka disekitar jalur ini.

Di Shelter II ini terdapat tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda, dengan pemandangan hutan tropis yang masih lebat. Di dekat Shelter II ini terdapat sungai yang kering pada saat musim kemarau.

Menuju Shelter III kita akan melewati jalan-jalan yang becek dan berlumpur dan banyak pacet terutama di musim hujan. Bahkan Di beberapa tempat jalur berupa tanah licin yang curam, namun kita masih agak tertolong adanya akar-akar pohon. Shelter III tempatnya luas dan terdapat sungai yang jernih, di tempat ini pendaki dapat mendirikan tenda.

Untuk menuju Shelter IV jalur semakin curam terutama di musim hujan licin sekali karena berupa tanah merah. Di beberapa tempat kita akan melewati tempat-tempat becek yang kadang kedalamannya mencapai dengkul kaki. Jalur akan semakin parah pada saat musim hujan dan banyak sekali pacet. Kita akan melewati dua buah sungai yang jernih airnya, sebaiknya kita mengambil air bersih disini karena disini lah sumber air bersih terakhir terutama di musim kemarau.

Shelter IV berupa persimpangan jalan, untuk menuju ke Kawah Ratu ambil jalan ke kiri, sedangkan untuk menuju ke puncak Gunung Salak ambil jalur ke kanan. Di shelter IV yang cukup luas ini pendaki juga dapat mendirikan tenda. Di sebelah kanan shelter IV terdapat sungai kecil yang kering dimusim kemarau.

MENUJU KAWAH RATU

Dari Shelter IV masih diperlukan waktu sekitar 1 jam untuk menuju Kawah Ratu. Kawah ini terdiri 3 kawah; Kawah Ratu (paling besar), Kawah Paeh (kawah mati), Kawah Hurip (kawah hidup). Kawah Ratu termasuk kawah aktif dan secara berkala mengeluarkan gas berbau belerang.

Dianjurkan agar berhati -hati setibanya di kawasan Kawah Ratu, perhatikan jalan yang dilalui. Di kiri-kanan tampak letupan -letupan kecil kawah aktif yang bersuhu sangat panas. Kawah ratu berupa sungai dengan batu-batuan belerang yang menghasilkan panas, air yang mengalir terasa hangat ada juga yang sangat panas.

Banyak wisatawan baik tua maupun anak-anak datang ketempat ini untuk mandi dan melumuri badan dengan belerang yang berkasiat menghilangkan penyakit kulit maupun memutihkan badan. Sebaiknya kita tidak berlama-lama di Kawah Ratu terutama di musim penghujan. Dilarang mendirikan tenda di Kawah Ratu dan tidak minum air Kawah Ratu yang sudah bercampur dengan air belerang.

MENUJU PUNCAK GUNUNG SALAK

Dari Shelter IV kita berbelok ke kanan setelah melewati sungai kecil kita akan bertemu dengan jalur lama di sebuah tempat yang agak luas. Untuk menuju ke puncak kita berjalan ke kiri mengikuti pagar kawat berduri. Jalur agak landai menyusuri punggung gunung yang becek dan di selimuti hutan lebat. Di sisi kiri dan kanan jalur ini banyak ditumbuhi pohon pandan yang daunnya berduri tajam menghalangi jalan, sehingga kita perlu agak hati-hati.

Di musim penghujan jalur ini sangat becek seperti rawa-rawa dan banyak pacet/lintah. Berhubung jalur ini jarang dilalui dan seringkali hilang tertutup pohon dan rumput sebaiknya membawa golok untuk membuka jalur. Setelah 1 jam melintasi rawa-rawa Jalur semakin curam melintasi akar-akar pohon dan bebatuan menyusuri sisi tebing yang sangat berbahaya. Jalur kadang sedikit menurun, agak landai, kemudian kembali menanjak tajam. 1 jam kemudian kita akan sampai di Shelter 3 jalur lama.

Dari Shelter 3 menuju Shelter 4 kita membutuhkan waktu sekitar 1 jam dengan melintasi akar-akar pohon, yang tertutup tanah lunak sehingga kaki bisa kejeblos. Bila angin bertiup kencang maka pohon-pohon akan bergoyang dan tanah yang kita injak pun akan bergoyang. Dari tempat ini kita dapat melihat Kawah Ratu dengan sangat jelas. Di sekitar daerah ini kadangkala kita akan mencium bau belerang yang berasal dari Kawah.

Jalur ini sangat sempit dengan sisi kiri kanan berupa jurang yang curam dan dalam. Jalur berfariasi sedikit turunan kemudian sedikit landai, lalu kita mulai mendaki punggung yang curam kembali. Shelter IV ada sedikit ruang untuk mendirikan 1 buah tenda kecil dengan sisi kanan berupa jurang. Bau belerang yang berasal dari Kawah Ratu kadang tercium ketika angin bertiup ke arah puncak gunung.

Sekitar 1 jam menuju Shelter 5 jalur sedikit menurun kemudian kembali menanjak tajam, menyusuri punggung gunung di antara akar-akar pohon-pohon. Kemudian kita akan memanjat tebing batu curam, kedua tangan kita harus mencari pegangan batu, sehingga semua barang bawaan harus diikat atau dimasukkan kedalam tas. Di Shelter 5 pendaki dapat mendirikan tenda, tempat ini agak luas sehingga bisa digunakan untuk mendirikan beberapa tenda. Menuju Shelter 6 memerlukan waktu sekitar 1 Jam Jalur semakin curam dan berbahaya, jalur begitu sempit sehingga tidak ada tempat untuk beristirahat. Menuju Shelter 7 jalur semakin curam dan berbahaya kita perlu waktu sekitar 1 jam untuk mendaki punggung gunung yang semakin menanjak. Jalur kebanyakan melintasi akar-akar pohon sehingga bila angin bertipu kencang kita pun akan bergoyang-goyang sehingga menggetarkan jantung.

Di shelter 7 ini terdapat percabangan jalur yakni pertemuan dengan jalur pendakian yang berasal dari Girijaya. Dari Shelter 7 kita hanya tinggal membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk menuju puncak gunung Salak I, jalur sudah tidak terlalu curam lagi, masih melintasi akar-akar pohon dan batu-batuan berselimut tanah gembur.

Puncak gunung Salak I masih banyak ditumbuhi pohon-pohon besar, tempat ini sangat luas dapat digunakan untuk mendirikan beberapa tenda. Terdapat beberapa makam kuno salah satunya makam Embah Gunung Salak. Terdapat juga sebuah pondok untuk beristirahat bagi para pejiarah, Air hujan dari pondok ini ditampung dalam sebuah bak penampungan, sehingga dapat digunakan oleh para pendaki dan para pejiarah. Angin kencang sering bertiup, terutama di musim penghujan.

Untuk mendaki gunung Salak sebaiknya dilakukan pada pertengahan musim kemarau, biasanya jalur tidak terlalu becek, kemungkinan hujan tidak turun, tidak ada pacet / lintah, angin tidak terlalu kencang. Di musim penghujan jalur tertutup tanaman harus membawa golok untuk membuka jalur terutama alang-alang dan daun pandan yang berduri tajam. Lakukan pendakian pada siang hari karena pendakian di malam hari sangat berbahaya berhubung banyaknya jalur-jalur yang sempit menyusuri jurang, juga banyaknya jalur yang memerlukan bantuan kedua tangan kita untuk berpegangan sehingga sulit memegang lampu senter.

JALUR GIRI JAYA ( CURUG PILUNG )

Untuk menuju puncak Gunung Salak pendaki dapat melalui Jalur Giri Jaya dengan waktu tempuh sekitar 5 - 8 jam perjalanan. Jalur ini tepatnya berada di Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Untuk menuju desa Giri Jaya dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan Ojek dari Cicurug dengan ongkos sekitar Rp. 15.000,- Atau pendaki dapat berjalan kaki dengan waktu tempuh sekitar 3,5 jam perjalanan.

Tidak ada kendaraan umum yang menuju Giri Jaya sehingga tempat ini tidak begitu dikenal. Namun angkutan umum seringkali dicarter untuk mengantarkan para pejiarah. Pendaki dapat mencarter angkutan umum dari pasar Cicurug dengan tarif sekitar Rp.70.000,- sebelumnya harus ditanyakan dahulu kepada sopirnya apakah pernah mengantar ke Kompleks makam Eyang Santri Girijaya. Sesampainya kita di pintu masuk Wana Wisata Curug Pilung, dengan berjalan kaki beberapa meter kita akan melihat gapura pintu masuk Pasareyan Eyang Santri. Kita akan melewati kompleks makam yang penuh suasana magis. Jalan setapak di kompleks Pasareyan Eyang Santri sangat bersih dan rapi. Makam keramat ini seringkali dikunjungi oleh para pejiarah dari luar Sukabumi.

Dari kompleks pasareyan Eyang Santri kita berjalan melalui rumah-rumah penduduk, kemudian akan sampai di kebun-kebun penduduk. Setelah berjalan sekitar 15 menit kita akan sampai disebuah tempat yang sering digunakan Eyang Santri untuk bertapa. Di pertapaan ini terdapat MCK, pendaki harus mengambil air bersih disini karena selebihnya hingga mencapai puncak tidak terdapat mata air.

Terdapat Air terjun yang sangat indah di bawah pertapaan Eyang Santri, air terjun Curug pilung di atasnya lebar seperti danau, baru airnya tumpah membentuk air terjun. Para pendaki yang berkemah di sekitar tempat ini harus berhati-hati, karena sering diganggu oleh babi hutan. Biasanya para pendaki menginap di Pondok Pak Irwan. Pak Irwan sangat baik banyak membantu para pendaki yang kesasar turun melalui jalur ini setelah mendaki Gunung Salak.

Dari Pertapaan Eyang Santri jalur masih agak landai melewati pohon-pohon damar yang masih pendek, di siang hari sangat panas namun pemandangan sangat indah. Bila cuaca bagus kita dapat menyaksikan puncak Gunung Gede dan Pangrango dengan sangat jelas. Lereng-lereng Gunung Salak sangat indah sekali, banyak ditumbuhi pohon-pohon besar dan lebat. Kita mulai memasuki kawasan hutan tropis. Sekitar 1 jam perjalanan jalur masih agak landai melewati jalan air yang sempit dan licin. Di beberapa tempat banyak ditumbuhi pohon pisang dan pandan.

Jalur mulai menanjak curam melewati tanah yang lunak sehingga sangat licin, di musim penghujan jalur ini sangat licin sekali dan banyak terdapat pacet. Di sisi jalur juga sering kita jumpai pohon pandan dengan daun yang berduri tajam menghalangi jalur. Pendaki tidak akan menemukan tempat yang cukup luas dan kering untuk mendirikan tenda. Sekitar 3 hingga 4 jam perjalanan kita akan sampai di sebuah makam Pangeran Santri. Di sekitar makam keramat ini terdapat mushola dan sebuah pondok. Di belakang pondok terdapat bak penampungan air yang berasal dari pipa saluran air.

Dari makam Pangeran Santri ini jalur semakin curam melewati akar-akar pohon dan tanah, masih diperlukan waktu sekitar 2 jam perjalanan untuk menuju puncak. Di beberapa tempat kita harus melintasi batu-batu besar yang licin sehingga harus berhati-hati karena di samping kita adalah jurang. Kadangkala kita harus melewati akar-akar pohon yang tertutup lumut dan sedikit tanah, sehingga seringkali kaki dapat berhati-hati untuk tetap menginjak akar, karena bila menginjak tanah akan kejeblos ke dalam celah-celah akar. Rombongan monyet kadangkala melintas di atas pohon, burung-burung langkapun seringkali melintas di atas kita.

Selanjutnya kita akan sampai di pertemuan jalur yang berasal dari Cangkuang, tepatnya di shelter VII. Dari Shelter VII jalur sudah mulai agak landai melewati akar-akar pohon. Sekitar 10 menit kemudian kita akan sampai di puncak Gunung Salak I. Di puncak gunung Salak I ini terdapat makam Embah Gunung Salak yang nama aslinya Raden K.H. Moh. Hasan Bin Raden K.H. Bahyudin Braja Kusumah. Tidak jauh dari makam Embah Gunung Salak, terdapat makam kuno yang lain, yakni makam Raden Tubagus Yusup Maulana Bin Seh Sarip Hidayatullah. Di puncak gunung Salak 1 ini juga terdapat sebuah pondok yang sering digunakan oleh para pejiarah untuk menginap. Terdapat juga tanah datar terbuka yang cukup luas sehingga beberapa tenda dapat didirikan.

JALUR GIRI JAYA ( CISAAT - CICURUG )

Untuk menuju ke desa Girijaya dari Jakarta naik bus (kereta) jurusan Sukabumi turun di Cicurug, kemudian disambung dengan menggunakan mobil angkot ke Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi yang hanya ada di pagi hari, atau mencarter mobil angkot dengan tarif sekitar Rp.70.000,-. Dapat juga di tempuh dengan menggunakan kendaraan ojeg yang ongkosnya berkisar Rp.15.000,- dan bila ingin berjalan kaki dapat memakan waktu sekitar 3,5 jam.

Pendakian di mulai dari gapura pintu masuk, menyusuri jalan berbatu. Di kiri kanan terdapat perkebunan, persawahan, dan pemukiman penduduk. Di sebelah kiri jalur terdapat sungai kecil yang sangat jernih, di sinilah pendaki harus mempersiapkan air untuk perjalanan karena di sepanjang perjalanan tidak terdapat mata air. Di depan mata kita nampak puncak gunung Salak dengan sangat anggunnya.

Dengan menyusuri punggungan bukit yang ditumbuhi semak-semak diselingi pohon jenis paku-pakuan kita bisa memandang lereng punggung gunung salak lainnya yang menjadi jalur Girijaya melalui Wana Wisata Curug Pilung. Dari kejauhan nampak pondok Irwan yang jauh dari pemukiman penduduk ditengah-tengah perkebunan damar. Tampak juga bangunan tembok berwarna putih yang kokon menjadi tempat bertapa Eyang Santri. Dibelakangnya tampak pula punggungan bukit yang membentuk jalur Cangkuang, Javana Spa nampak dari kejauhan berada ditengah-tengah rerimbunan kehijauan hutan tropis di lereng Gn. Salak.

Setelah berjalan sekitar 2 jam kita mulai memasuki kawasan yang ditumbuhi pohon-pohon besar. Beberapa pohon telah ditebangi sehingga apabila pohon-pohon besar di punggungan gunung ini habis dikawatirkan jalur pendakian ini akan menjadi terbuka dan panas. Selanjutnya kita melintasi kawasan hutan jalur agak sempit dan licin terutana di musim hujan. Jalur pendakian seringkali tertutup oleh daun-daun yang berguguran, sehingga tanah apalagi bekas tapak kaki kadangkala tidak terlihat. Untuk itu sebaiknya melakukan pendakian di siang hari, begitu juga untuk turun gunung sebaiknya dilakukan di siang hari.

Sekitar 3 jam perjalanan kita akan sampai di makam Kanjeng Pangeran Santri. Di sekitar kompleks Makam Keramat ini terdapat bangunan pondok untuk para pejiarah, juga terdapat Mushola dan bak penampungan air untuk keperluan sembahyang, masak, mandi, terdapat juga sebuah WC sederhana. Dari makam Pangeran Santri ini jalur semakin curam melewati akar-akar pohon dan tanah, dengan menempuh waktu sekitar 2 jam perjalanan kita akan sampai di pertemuan jalur yang berasal dari Cangkuang, tepatnya di shelter VII. Di beberapa tempat kita harus melintasi batu-batu besar yang licin sehingga harus berhati-hati karena di samping kita adalah jurang. Kadangkala kita harus melewati akar-akar pohon yang tertutup lumut dan sedikit tanah, sehingga seringkali kaki dapat berhati-hati untuk tetap menginjak akar, karena bila menginjak tanah akan kejeblos ke dalam celah-celah akar. Rombongan monyet kadangkala melintas di atas pohon, burung-burung langkapun seringkali melintas di atas kita.

Dari Shelter VII jalur sudah mulai agak landai melewati akar-akar pohon. Sekitar 10 menit kemudian kita akan sampai di puncak Gunung Salak I. Di puncak gunung Salak I ini terdapat makam Embah Gunung Salak yang nama aslinya Raden K.H. Moh. Hasan Bin Raden K.H. Bahyudin Braja Kusumah. Tidak jauh dari makam Embah Gunung Salak, terdapat makam kuno yang lain, yakni makam Raden Tubagus Yusup Maulana Bin Seh Sarip Hidayatullah.

KUTAJAYA / CIMELATI

Jalur Kutajaya atau Cimelati adalah jalur pendakian ke puncak gunung Salak yang paling pendek dan paling cepat, namun di sepanjang jalur kita akan sulit menemukan sumber air, sehingga air bersih harus dipersiapkan sejak dari bawah. Untuk menuju Kutajaya dari Bogor kita naik mobil ke jurusan Sukabumi turun di Cicurug atau Cimelati. Cicurug adalah kota kecamatan yang masuk ke wilayah kabupaten Sukabumi, segala perlengkapan pendakian harus dipersiapkan di sini. Dari pasar Cicurug yang juga merangkap terminal kita dapat mencarter mobil ke Kutajaya dengan tarip sekitar Rp.70.000,- atau naik ojeg dengan tarip sekitar Rp.15.000,- Kendaraan umum hanya ada di pagi hari, itupun dalam jumlah sangat terbatas.

Perjalanan dimulai dari desa Kutajaya dengan menyusuri ladang dan kebun pertanian penduduk, karena banyaknya percabangan maka perjalanan sebaiknya dilakukan siang hari, usahakan untuk selalu mengikuti punggungan gunung.

Bila agak sulit menemukan jalur bisa mengikuti arah ke air terjun. Terdapat tanda-tanda yang jelas pada setiap Pos, namun tanda-tanda penunjuk arah menuju puncak sangat jarang, untuk itu terdapat beberapa petunjuk yang dapat digunakan yaitu berupa tali-tali rafia. Di sepanjang jalur tidak ada tempat yang cukup luas dan datar untuk membuka tenda. Di beberapa Pos terdapat tempat yang cukup untuk mendirikan 1-2 buah tenda ukuran kecil. Jalur ini jarang dilewati pendaki sehingga kadangkala tertutup rumput dan dedaunan.

Setelah melintasi ladang pertanian penduduk, jalur mulai melintasi hutan yang cukup lebat namun tidak terlalu lembab. Selanjutnya akan dijumpai pertigaan dari Kutajaya, air terjun dan menuju puncak. Berjalan menuju ke arah puncak sekitar beberapa ratus meter akan dijumpai pos 3. Jalur terus menanjak melintasi hutan-hutan yang cukup lebat. Di pos 4 kita akan menemukan percabangan lagi. Di sini terdapat pipa saluran air, jangan mengikuti pipa saluran air, baik yang ke atas (kiri) maupun ke bawah (kanan). Yang lebih penting lagi jangan merusak pipa saluran air untuk memperoleh air minum.

Setelah melewati pos 4 jalur kelihatan cukup jelas dan tidak banyak percabangan lagi. Dengan berjalan menempuh sekitar 1 jam akan sampai di Pos 5. Jalur semakin menanjak melintasi hutan lebat dan kadangkala kita harus melintasi akar-akar pohon. Sepanjang jalur kutajaya ini pemandangan monoton hanya berupa hutan-hutan, namun kita kadangkala akan melihat satwa-satwa seperti aneka jenis burung, juga suara-suara monyet, bahkan seringkali rombongan monyet melintasi jalur ini.

Untuk menuju Pos 6 diperlukan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Di pos 6 terdapat tanah datar yang cukup untuk mendirikan 1 buah tenda. Masih diperlukan lagi waktu sekitar 1 jam perjalanan untuk menuju puncak gunung Salak 1. Masih dalam suasa hutan yang semakin lebat dan disertai tiupan angin yang semakin kencang, lintasan kadang berupa batu besar ketika hendak mencapai puncak. Muncul tepat di samping makam Mbah Gunung Salak, maka sampailah kita di puncak Gunung Salak 1 dengan ketinggian 2.211 mdpl.

PASIR RENGIT

Jalur pendakian dari Pasir Rengit, Cibatok ini untuk menuju ke Kawah Ratu medannya menanjak dan berbatu dengan air terjun Pasir Reungit di awal pendakian. Untuk menuju puncak gunung Salak 1 jalur ini merupakan jalur terpanjang karena harus memutar dan melintasi kawah ratu. Di rute ini bisa di jumpai dua kawah berukuran kecil, yakni kawah Monyet dan kawah Anjing. Pada musim hujan beberapa bagian medannya berubah menjadi saluran air alami.

Di sekitar desa Pasir Reungit terdapat Bumi Perkemahan dan tiga air yakni, curug Cigamea satu, curug Cigamea dua, dan curug Seribu, yang dapat disinggahi sebelum ke Kawah Ratu. Curug Cigamea tingginya kurang lebih 50 meter, sedangkan tumpahan airnya melebar.

Tidak jauh dari kampung Pasir Reungit, terdapat curug ngumpet. Tumpahan airnya cukup lebar dengan ketinggian sekitar 20 meter, dan menggoda hati untuk mandi dan berenang atau duduk di bebatuan. Curug seribu sangat indah dan menarik, ketinggian curug mencapai 200 meter, dan tumpahan curug cukup besar dan menyatu, sehingga dari jarak jauh sudah terasa percikan airnya yang dingin. Untuk mencapai lokasi curug seribu harus menuruni jalan setapak yang curam sehingga harus ekstra hati-hati.

Untuk menuju ke Pasir Reungit dari stasiun Bogor naik mobil angkot jurusan Bebulak. Kemudian dari terminal Bebulak disambung dengan mobil jurusan Leuwiliang, turun di simpang Cibatok. Dari Cibatok disambung lagi dengan mobil angkutan pedesaan ke Gunung Picung atau Bumi Perkemahan Gunung Bunder yang berakhir di Pasir Reungit.

Pada musim hujan di jalur pendakian banyak terdapat pacet atau lintah, juga terdapat cacing raksasa dengan panjang sekitar 1,5 meter, yang disebut Metaphire Longa atau cacing sonari, karena di malam hari mengeluarkan lengkingan seperti sedang bernyanyi.

 

Gunung Salak is a volcano located on the island of Java, Indonesia. This has some mountain peak, of which Peak Salak Salak I and II. Geography of the mountain is at 6 ° 43 'LS and 106 ° 44' BT. Highest peak I Salak Salak 2211 m and 2180 m dpl II. There is one more peak called Peak Sumbul with a height of 1926 m dpl.

Administratively, G. Salak area included in Sukabumi and Bogor Regency, West Java. Management of the forest area is under the Perum Perhutani KPH Bogor, but since 2003 a regional expansion Halimun Mountain National Park, now called National Park Mount Halimun Salak.Gunung-Salak volcano is a strato type A. Since the year 1600 recorded an explosion occurred a few times, including a series of eruption between 1668-1699, 1780, 1902-1903, and 1935. The last eruption occurred in 1938, in the form erupsi freatik that occurred in the crater Cikuluwung Putri.

Mount Salak is one of the most accessible volcanoes from Jakarta but has not erupted since 1935. There are various routes on the mountain range and despite being forested and generally lacking in views there is a great deal of variety to be found on its slopes – craters, wildlife, plants and numerous mountain peaks. Surprisingly, it is the kind of mountain that cannot be fully explored in a single hike – you need to try various routes to discover the character of the mountain as a whole.

The best starting point for the highest of Salak’s seven summits is from the agriculture station near Cimelati (800m) – there is a signpost where you take the right turn near Cicurug. It takes just over 4 hours to reach the summit, which features a prominent blue sign, a gravestone and a shelter. It is a steep but straightforward hike through forest to Salak 1 (the highest peak), and the forest does thin out a little as you get close to the summit. You may be lucky to spot the elusive Javan Ferret Badger on the upper slopes. Despite being forested on top, you are rewarded with views to Salak’s other lesser summits, the Gede-Pangrango massif, and outlying suburbs of the city of Bogor below.

The second highest, and more northerly peak, Salak II (2,144m) is best approached from Curug Nangka, Ciapus, to the north of the mountain (at approx. 750m). This is the most arduous and challenging trek on the range and access is a very grey area. It would appear it can be done if you pay for a member of park staff to accompany you on the trek but they are incredibly difficult people to get in touch with. Officially, this route is closed to all hikers at present except if you are conducting scientific research.

It is basically because the National Park does not have sufficient resources to enable that the trail is well-maintained and they are worried about people having accidents because they would be responsible. You are not even allowed to sign a waiver to say that you accept full responsibility (which should be expected anyway). Such a restriction represents a sad state of affairs for access to the outdoors in Indonesia and that fact that National Parks prevent rather than encourage responsible hiking is a serious problem that needs to be addressed.

The most popular trek on Salak is from the Javana Spa to the active crater Kawah Ratu (Queen’s crater). You can also reach Salak 1 from this approach and – despite being a longer route than from Cimelati – it is increasing in popularity due to the fact there are markers on the trail so it is very hard to get lost. To get there, take a well-signposted right turn for ‘Javana Spa 12km’) off the Bogor-Sukabumi road just beyond Cicurug.

The entrance gates and information centre are 2 kilometres before the end of the road at the Javana Spa and this is where you purchase a National Park ticket. Just before the Javana Spa the road crosses a river and there is a small office building at the start of the trail (1,108m) to Kawah Ratu and Salak summit. This trail is known as the Cangkuang route and if anyone is actually at the office you will be given an excellent information leaflet (in Indonesian) which includes a very helpful map. The trails are dotted with numbered markers shown on the map.

Kawah Ratu is an easy 5km from the office and because there is not much elevation gain fast hikers will be able to get there and back in 3 hours. At a leisurely pace it takes about 2 hours to reach the crater. The first obvious sign on the route (except the frequent markers) is a green sign for Salak summit and Kawah Ratu (1,224m) after which you reach the junction – right for Salak summit, left for the crater. This is a popular camping area and is known as Bajuri (1,364m). On the trail to the crater, the next landmark is a wooden hut with a roof (1,415m) after which the trail descends slightly to a Helipad (1,390m) before descending further to the crater itself (1,372m). Major eruptions occurred here in 1668-1699, 1780, 1902-1903 and February 1935.

The crater area actually consists of three craters – the Queen crater (the largest) plus the Paeh Crater (death crater) and Hurip Crater (life crater). It’s an astounding landscape: a vast hillside of white rocks, steaming sulphur gases, bubbling water and mud pools and rivers of sulphur. In terms of active craters in West Java, it is perhaps second only to Papandayan. The water here is supposed to have cleansing properties but you should not drink it due to the high sulphur content. Indeed, after heavy rainfall the water is thick with sulphur. The forested peak above the crater area is Gunung Sumbul, a subsidiary top in the Salak range.

There are poisonous gases in this area and sadly people have lost their lives, particularly when camping in the area. Therefore, although the trail to the crater makes an adventurous family day out you must be very very careful near the crater. The best thing to do is return the same way to the Javana Spa starting point in 90 minutes or less. However there is another route to the crater from the north at Pasir Reungit and it would probably make a great traverse to start at one side and descend to the other.

Please note: Gunung Salak is part of Mount Halimun Salak National Park which is closed entirely from December to March and August. Oh, and Idul Fitri. Hikers are supposed to register before their hike. Check the National Park website for more information, although rather annoyingly their email mailbox has been full for months and months and the chances of anyone answering the phone are almost zero!

GHSNP origins dated back to 1935 when the Gunung Halimun Wildlife Sanctuary (GHWS) covered an area of 40,000 hectares. The GHWS first made as one of the national parks through the Minister of Forestry decree No. 282/Kpts-II/1992 on February 28th, 1992 and was renamed the Gunung Halimun National Park (GHNP). The GHNP was then temporarily put under the management of the Gunung Gede Pangrango National Park (GGPNP). Since March 23rd, 1997, however, the management of GHNP has been officially separated from the management of GGPNP and became a Technical Implementation Unit Gunung Halimun National Park Office, Directorate General of Forest Protection and Nature Conservation of the Department of Forestry.It begins from the area of 40,000 hectares Gunung Halimun Wildlife Sanctuary (GHWS) since 1935.

Because of the condition of forest natural resources that had been threatened and encouragement from the stakeholders who were concern about towards the natural conservation, through Ministry of Forestry decree No. 175/Kpts-II/2003, the GHNP area was added by Mt. Salak forest area, Mt. Endut and its surrounding area. Previously, Mt. Endut's surrounding area held the status of limited production forests and protected forests managed by State Forestry Public Company (Perum Perhutani). This unity of conservation area was renamed the Gunung Halimun Salak National Park (GHSNP).

The above decree stated that GHSNP now covered an area of 113,357 hectares spreading across three districts in West Java Province i.e. Sukabumi, Bogor, and Lebak. The area of GHSNP takes shape of a star or fingers laid open. As a result, the GHSNP has much longer borderline than that of round shaped conservation areas. In turn, its management requires more focused efforts too. Moreover, the GHSNP includes some plantation enclaves, traditional villages/community, several gold mines, earth-sourced power plants, and mass tourism. It is said that farmers-traditional and migrant ones- had lived in the area before it was made a conservation area. This, and the fact that GHSNP is currently one of the national parks in Java that has the widest tropical rainforest ecosystem, make it a major challenge for the managers, all interested parties and local community to develop a model for managing a more collaborative and sustainable area of GHSNP in the future. Afterall, GHSNP is currently one of the widest tropical rainforest ecosystems among national parks in Java.

FLORA

It is estimated that up to 1,000 plant species inhabit the forests of GHSNP. Vegetation and flora within the park varies according to the altitude which can be classified into three zones:

Colline zone, of altitude between 500-1,000 m. It is dominated by Rasamala trees (Altingia excelsa), diameter of which can reach up to 1.5 m. Sub-montane zone, of altitude between 1,000-1,500 m. It is dominated by Puspa trees (Schima wallichii) and some Fagaceae species. Montane zone, of altitude between 1,500-2,211 m. It is dominated by Fagaceae species (Castanopsis spp., Lithocarpus spp., and Quercus spp.). Creater vegetation is found especially in Mt. Salak.

GHSNP is also home to unique and rare species such as pitcher plants (Nepenthes spp.) and Palahlar trees (Dipterocarpus hasseltii), as well as orchids (261 species), bamboos (12 species), rattans (13 species) and many kinds of other species.

FAUNA

Fauna is also very diverse in the park. Some species are rare and thus protected. Some of the major endangered mammals in the park are the Javan leopard (Panthera pardus melas), the leopard cat (Prionailurus bengalensis), the grizzled leaf monkey (Presbytis comata), the silver leaf monkey (Trachypithecus auratus), the wild dog (Cuon alpinus), and the stink badger (Mydaus javanensis). The Javan gibbons (Hylobates moloch), which is endemic of Java is also endangered. Their characteristic calls can be heard coming from the deepest of the rainforest in the morning and afternoon. Suggested sites to visit in order to observe the Javan gibbons are Cikaniki, Mt. Botol, Mt. Andam or Mt. Panenjoan.

GHSNP is heaven to many unique and beautiful insects such as butterflies and beetles. The birdlife in the park is also interesting for birdwatchers as 244 species are recorded, 32 of which are endemic of Java Island. Some of them are endangered species such as the Javan hawk-eagle (Spizaetus bartelsi), the Javan cochoa (Cochoa azurea), the Javan scops-owl (Otus angelinae) and the blue-tailed trogon (Harpactes reinwardtii).

The research station provides researchers with accommodation that includes a laboratory equipped with a refrigerator, a freezer, a drying oven, light microscopes, electronic balances, and so on. Such a research station in a tropical rain forest is very useful for researchers.

There is a canopy trail located about 200 m from the research station. It is 20-25 m high above the ground and 100 m in length. Because the distribution of fauna and flora is varied between on the ground and at the canopy in tropical rain forests, a canopy trail is very useful and the only means to study inventories and dynamics of fauna among forest canopy. Unfortunately due to the condition that is not possible, it is closed until further notice.

Establishing vegetation permanent plots is a laborious work. However, it is critically important to understanding forest dynamics. The GHSNP has three vegetation permanent plots, although currently it is only one that is still active.

The GHSNP has become one of the best national parks in Indonesia since it has comprehensive data of fauna and flora collected. Research has been published in formal reports, journal articles and books. The inventory of vertebrates (mammal, bird, reptile, amphibian, and fish) is near completion. Moreover, there are monitoring activities conducted not only by researchers but also national park staff. The monitoring is done as an effort to protect endangered species such as Javan eagle-hawk, Javan leopard, Javan gibbons, and so on.

A number of studies have been conducted in the GHSNP for reasons as follows :

1. It is located relatively near Jakarta

2. It is the largest sub-mountain forest remaining in Java Island

3. It has excellent facilities to support research such as a research station and vegetation permanent plot

You can reach the GHSNP Office by cars, motorcycles or buses. It's 125 km away from Jakarta and takes approximately 3 hours if you travel Jakarta-Bogor-Parungkuda-Kabandungan route. It's 152 km away from Bandung and takes about 4 hours if you travel by Bandung-Sukabumi-Parungkuda-Kabandungan route. If you want to visit certain the locations within GHSNP area such as Cikaniki, Ciptagelar, Corridor Forest, and Citalahab, it is better for you to learn the maps. Most of tracks are rocky roads, so it is better for you to go there by jeep, motorcycle or even on foot.

Requirements for visiting the GHSNP are as follows:

1. For research, education, film shooting, photography and journalistic activities, an application of permit should be submitted to the Office of GHSNP at Kabandungan, Sukabumi, West Java

2. For climbing activities, an application of permit should be submitted to the Office of GHSNP, attaching a photo copy of identity card and a letter of consent from parents for youth under 17 years old

3. Visitors must pay an entrance ticket and insurance fees (it is not a must)

4. Check the things brought to the area at the guard house, and show the permit to the guard on duty

5. Do not bring along any pet

6. Do not bring any weapon or hunting apparatus

7. Must keep every electronic devices in silent mode

8. Do not make fire with tree branches or anything alike

9. Do not change, take with you, or damage anything found in the area

10. Walk on the existing paths, do not make your own path

11. Take a rest at the places provided

12. Take all the waste or unused materials out of the national park area

13. Report and return the entrance permit back to the guard when leaving the area

GUNUNG HALIMUN SALAK NATIONAL PARK HEAD OFFICE Jl. Raya Cipanas - Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi 43368 Jawa Barat - Indonesia

Phone/Facsimile: +62-266-621256 / 621257

Mobile internet access: http://wap.tnhalimun.go.id E-mail: mail@tnhalimun.go.id

 

Banyak angkutan umum ke Cicurug dari Jakarta naik bus jurusan Sukabumi / Bandung. Dari Depok naik mini bus jurusan Sukabumi. Dari Bogor naik angkot atau mobil L300, bisa juga naik kereta api ke Sukabumi.

CANGKUANG CIDAHU
Angkutan umum dari Bogor jurusan Sukabumi, turun di Cicurug. Naik angkot ke Cidahu, disambung ojek / carter angkot ke Cangkuang.

CURUG PILUNG
Angkutan umum dari Bogor jurusan Sukabumi, turun di Cicurug. Naik ojek/carter angkot ke Curug Pilung/ makam Eayang Santri.

GIRIJAYA
Angkutan umum dari Bogor jurusan Sukabumi, turun di Cicurug. Naik ojek/carter angkot ke Girijaya.

KUTAJAYA / CIMELATI
Angkutan umum dari Bogor jurusan Sukabumi, turun di Cimelati/ Cicurug. Naik ojek/carter angkot ke Kutajaya.

PASIR RENGIT
Dari Terminal / Stasiun Bogor naik angkot jurusan Bebulak, disambung dengan mobil jurusan Leuwiliang, turun di simpang Cibatok. Dari Cibatok disambung lagi dengan mobil angkutan pedesaan ke Gunung Picung atau Bumi Perkemahan Gunung Bunder yang berakhir di Pasir Reungit.

  • Curug Pilung
  • Curug Seribu
  • Curug Cigamea
  • Curug Nangka
  • Kawah Ratu
  • Gunung Salak Endah
  • Kebun Raya Bogor

  • Makam Mbah Gn.Salak
  • Makam Pangeran Santri
  • Makam Raden Tubagus Yusup Maulana
  • Kuil Prabu Siliwangi
 

Gunung Salak sejak jaman dahulu sudah sering dikunjungi oleh para pejiarah, dahulu terdapat patung pemujaan di puncak gunung Salak. Terdapat juga makam mbah Gunung Salak yang sering dikunjungi para pejiarah.

Di kaki Gn. Salak banyak terdapat tempat-tempat keramat, makam keramat, ada juga pura dengan sebutan Kuil Prabu Siliwangi. Konon Prabu Siliwangi sering hadir ke Pura ini. Ketika beliau hadir, sering kali ada pejiarah yang kesurupan dan bertingkah seperti harimau jawa, meraung dan mencakar-cakar.


New Page 1
 
 
 
 
Lazada Indonesia

 
 

 

KANTOR BALAI TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK

Jl. Raya Cipanas - Kecamatan Kabandungan, PO. Box 2 Parungkuda - Sukabumi 43157
Jawa Barat - Indonesia,

Phone/Fax :
+62-266-621256 / 621257

Web:
http://www.tnhalimun.go.id/

akses melalui handphone: http://wap.tnhalimun.go.id

Email : mail@tnhalimun.go.id

 

New Page 1

HOME  -  ARTIKEL  JAWA BARAT  -  JAWA TENGAH  -  JAWA TIMUR  -  LUAR JAWA -  DAFTAR PUSTAKA  EMAIL MERBABUCOM  -  BUKU TAMU