MISTERI MACAN MERBABU

Jumat 14 November 2008, Mbah Steve dan Totok (almarhum) berangkat dari kota Solo menuju Kopeng untuk melakukan pendakian gunung Merbabu. Rencananya mereka mendaki di malam hari, sehingga siang hari beristirahat terlebih dahulu di losmen/hotel murah yang banyak terdapat di Kopeng. Bulan Nopember cuaca di Kopeng sangat dingin sejak siang jam 3, kabut tipis menyelimuti wilayah Kopeng yang berada di kaki Gunung Merbabu itu. Istirahat di hotel juga kurang nyaman karena dinginnya udara sore itu. Sehabis magrib Mbah Steve dan Totok makan di sebuah warung yang ditungguin oleh seorang nenek dan cucu perempuannya.

Kabut tebal mulai menutupi Kopeng ketika malam mulai tiba. Warung sempit di pinggir jalan raya Kopeng cukup hangat karena cucu pemilik warung menyalakan arang di atas anglo (alat pemanas untuk masak dari bahan tanah liat dengan bahan bakar arang atau kayu).
Nasi goreng dan kopi jahe yang mereka pesan, telah siap disantap. Mbah steve segera makan dengan lahap, sementara Totok yang baru pertama kali mendaki gunung sambil makan nasi goreng mengajak ngobrol sang nenek penjaga warung.

"Nek di Merbabu masih ada Harimau nggak?" Totok bertanya pada nenek penjaga warung.

.
Mbah Steve yang sedang makan kaget juga mendengar pertanyaan konyol tersebut. Sebelum mendaki merbabu Totok yang baru pertama kali hendak mendaki gunung sudah dijelaskan oleh mbah Steve tentang kondisi Merbabu yang gersang dan nyaris tidak ada satwa di Merbabu.

.
Nenek penjaga warung menambah arang di atas anglo untuk memperbesar nyala api, remang-remang cahaya api menyinari wajah sang nenek. Sekilas nampak wajah sang nenek mengernyitkan dahi seolah-olah sedang serius berpikir.

.
"Merbabu sudah tidak ada harimau loreng...." jawab sang nenek mulai membuka percakapan. "Dulu... kalau nggak salah tahun 70-an ada harimau loreng besar sekali yang ditembak."


Malam semakin larut Mbah Steve dan Totok memesan lagi kopi jahe untuk menghangatkan badan. Sementara sang nenek terus bercerita tentang Harimau dan Macan di gunung Merbabu......

...................... cut ..................................

Basecamp Cunthel benar-benar dingin berselimut kabut tebal, waktu sudah jam 10 malam, Mbah Steve dan Totok masih ngobrol bersama Pak Partono (kepala basecamp waktu itu). Agak aneh kata pak Partono karena sudah satu minggu tidak ada satupun pendaki yang naik maupun turun lewat Cunthel. Singgkat cerita malam itu Mbah Steve dan Totok tetap nekat mulai mendaki gunung Merbabu.

...................... cut ..................................

Sekitar Pos dua jalur Cunthel memang terkenal akan keangkerannya. Sayup-sayup terdengar suara kucing besar "Waooooww.... " Awalnya masih ragu ini suara apa, bisa jadi suara berasal dari lembah karena angin dari lembah memang bertiup ke atas.


Suara kucing besar tersebut terdengar kembali dengan lebih keras. Totok ketakutan sekali mungkin karena tadi sore ngobrol serius tentang Harimau dan Macan kok tiba-tiba terdengar suaranya. Untuk ketiga kalinya suara Kucing Besar mengaum terdengar dengan jelas.


"Mbah Steve itu suara apa?" Totok bertanya gemetaran. Sambil berpikir keras Mbah Steve mencoba menenangkan Totok. " Ah itu suara angin aja."
Mbah Steve yang sudah berulang kali mendaki gunung Merbabu sendirian, baru kali ini mendengarkan suara aneh seperti macan. Mungkinkah ini harimau jadi-jadian??

...................... cut ..................................

Minggu 16 November 2008 Mbah Steve dan Totok sudah turun Merbabu dan sedang beristirahat di Solo, Pak Partono (Kepala Basecamp Cunthel) tiba-tiba menelephon "Mbah Steve lagi dimana? Sudah di Solo ya? Syukurlah karena ada kabar ada Pendaki Wanita dimakan Macan di Merbabu."


Minggu 16 November 2008 , berita di TV, koran dan dan internet ramai sekali. Berita ini sangat menghebohkan para pendaki gunung. Karena baru kali ini ada kabar Pendaki wanita di makan harimau di gunung. Lokasinya di sekitar jalur Suwanting.

Seorang wanita ditemukan tewas di Gunung Merbabu. Tepatnya di kawasan hutan Suroloyo, Dukuh Krembyungan, Desa Ketundan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Wanita tanpa identitas itu diduga tewas akibat diterkam harimau.

.
Adalah Ny Juminten (53), warga setempat yang menemukan jenazah wanita itu. Betapa terkejutnya Juminten menatap jenazah yang tak utuh lagi. Spontan ia menjerit-jerit, dan membatalkan niatnya mencari rumput untuk ternaknya. Kondisi jenazah wanita itu begitu mengenaskan. Kedua kakinya tinggal tulang , dari bekas lukanya, kayak habis dimakan macan. Dukuh Krembyungan pun heboh. Apalagi, saat warga ramai-ramai melihat jenazah, melintas seekor harimau loreng.

.
Ciri-ciri jenazah korban, berkulit sawo matang, berambut panjang, tinggi sekitar 160 sentimeter. Korban membawa tas punggung besar, lazimnya tas pendaki gunung. Korban pun diprasangkakan pecinta alam. Kehebohan makin menjadi-jadi. Beragam rekaan dibangun warga setempat, mereka-reka tragedi kematian sang pendaki gunung. Rekaan warga akhirnya terhenti pada kesimpulan aparat setempat. Korban bukan pendaki gunung atau pecinta alam, melainkan orang gila.

Catatan :
- Di beberapa tempat mata air di merbabu kadangkala bisa dijumpai kotoran macan.
- Macan suka bersarang di goa-goa berbatuan terjal di jurang antara jalur Wekas dan jalur Grenden.
- Macan akan mencari mangsa di padang rumput atau sabana mencari rusa, kancil atau babi hutan, atau hutan-hutan yang dihuni monyet.

 

TENTANG MERBABU.COM

Merbabu Community atau Komunitas Pecinta Alam Merbabu, berdiri sejak tahun 1984.

Website Merbabu.com hadir sejak tahun 2001, dirintis sejak tahun 1997 dengan domain hosting gratisan.

 

.

.

Copyrights © 2001 - 2017 Merbabu.Com Powered by Propacom